Toilet Training: Kapan Memulai dan Cara Mengajarkannya
Semenjak Aqlan lahir, aku sudah memakaikannya popok sekali pakai. Saat itu aku belum tahu tentang
clodi, jadi aku pakai popok. Popok sekali pakai sangat membantuku mengurus bayi karena aku cuman berdua sama suami mengurus bayi, kalau suami sedang bekerja, aku hanya berdua di rumah dengan Aqlan.
Lama-lama aku jadi merasa nyaman dengan memakaikan anak popok. Praktis, tidak ribet, tinggal buang. Paling penting waktuku tidak habis untuk mencuci celana bayi. Pernah waktu itu aku mencoba seharian tidak menggunakan popok, namun ternyata malah membuatku kelelahan.
Belum lagi anak menangis dan kerjaan rumah yang lainnya. Jadinya aku selalu pakaikan popok siang dan malam. Tapi, tidak mungkin aku memakaikan popok terus, ada saatnya nanti anak harus belajar toilet training.
Apa itu Toilet Training?
Toilet training adalah proses melatih anak dalam mengontrol keinginannya untuk buang air kecil dan besar. Prosesnya tentu tidak mudah dan jangan berharap sekali kita ajarkan anak langsung bisa buang air sendiri ke kamar mandi.
Toilet training membutuhkan proses intensif dari orang tua untuk mendampingi anaknya. Orang tua juga harus sabar karena prosesnya sungguh menguji emosi.
Anak perlu diajarkan toilet training agar anak bisa mengontrol keinginannya untuk buang air. Tidak mengompol terus dan memakain popok dalam jangka waktu yang lama juga tidak baik bisa membuatnya iritasi kulit.
Namun, aku juga bingung kapan saat yang tepat untuk memulai proses toilet training, melihat anak seperti tidak ada tanda-tanda ingin ke toilet.
Kapan Anak Mulai Toilet Training?
Banyak ahli yang menyebutkan ideal anak memulai toilet training di usia 18 hingga 24 bulan. Namun, angka tidak menjadi patokan mutlak dalam memulai toilet training. Dalam toilet training perlu memperhatikan kesiapan anak dan orang tua.
Bukan orang tua yang menentukan kapan harus toilet training, tapi anak sendiri yang menentukan. Jangan sampai memaksa anak. Memaksanyanya akan membuat anak trauma dan justru prosesnya akan lebih lama lagi.
Jika anak tidak mau, biarkan saja nunggu kesiapan anak terlebih dahulu. Persiapan anak bukan hanya fisik namun mentalnya juga.
Aku sendiri memadukan persiapanku dan anak. Jika kami sama-sama siap, Insya Allah anak juga akan kondusif dan mulai mengerti yang kita arahkan. Apalagi aku yang terbiasa menggunakan popok sekali pakai, membuatku harus lebih siap mental karena akan ada perubahan kebiasaan ketika menjalankan proses
toilet training.
Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda. Tidak bisa disamakan atau dibandingkan dengan anak lain dalam prosesnya. Biasanya anak perempuan lebih cepat proses
toilet training daripada laki-laki. Namun, itu juga bukan menjadi patokan yang mutlak.
Persiapan mental orang tua juga harus siap dalam proses
toilet training, pasalnya dalam proses toilet training akan ada suara-suara sumbang yang menganggu.
"Kok anaknya belum bisa pipis sendiri? Anaknya si A udah bisa tuh pipis sendiri ke toilet.”
Oh Aqlan malah sudah bisa antar aku ke pasar naik motor, wkwkwk. Alhamdulilah aku diberi kemudahan untuk tutup telinga mendengar hal-hal semacam itu.
Niat dari awal ingin stimulasi anak agar mandiri, jadi aku tidak peduli dengan suara-suara sumbang. aku fokus terhadap proses toilet training, agar aku happy dan Aqlan tidak trauma.
Seringkali aku mendengar komentar tersebut bahkan ditunjukkan pada anak, "Jangan ngompol terus dong, kan sudah besar." Ucapnya pada anak berusia 2 tahun.
Secepat mungkin aku merespon, "Tidak apa-apa sayang, Aqlan masih belajar. Nanti kan celananya Mbun cuci. Yuk, kita bersihkan dulu nanti pakai celana baru lagi yang sudah dicuci."
Aku mulai mengajarkan toilet training di usisa Aqlan 2 tahun lebih, aku lupa pastinya. Saat Aqlan sudah bisa bilang "pipis" namun pipisnya sudah keluar, hihi lucu banget. Paling buat aku terharu, dia lap sendiri bekas pipisnya menggunakan lap.
Aku mengira, Aqlan belum bisa merasakan kapan ia akan pipis. Jadinya, ketika sudah terjadi malah baru bilang. Hal itu biasa saja terjadi pada anak karena anak belum bisa membedakan kapan ia akan buang air kecil.
Jangan lupa Ayah dan Bunda diskusi bersama dalam melakukan persiapan toilet training, Ayah dan Bunda harus satu tuju. Tidak bisa masing-masing punya pemahaman berbeda dalam melatih toilet training.
Lalu, bagaimana caranya mengajarkan anak toilet training di usia 2 tahun?
Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Toilet Training?
Sulitnya mengajarkan anak toilet training kadang bikin orang tua frustasi. Sebaiknya buat proses toilet training ini jadi kegiatan yang menyenangkan. Sehingga orang tua tidak menganggap ini sebagai beban dan anak tidak merasa dituntut untuk melakukan sesuatu.
Alhamdulillah berkat kesabaran dan kesiapan mentalku, Aqlan sudah punya keinginan untuk pipis di toilet dan malah tidak mau menggunakan popok. Di usianya 3 tahun sekarang, Aqlan sudah tidak mengompol lagi.
Libur lebaran kami sekeluarga pergi ke Banten. Karawang - Banten cukup jauh, aku khawatir Aqlan akan minta pipis sedangkan rest area masih jauh. Nyatanya anaknya menolak untuk menggunakan popok.
Begitu pula saat mudik Karawang - Subang, aku takut Aqlan akan mengompol di jalan, nyatanya selama perjalanan ia tidak mengompol. Berkali-kali aku tawarkan, apakah ingin buang air kecil atau tidak, tapi dia tetap bilang "tidak mau."
Hahaha, anaknya happy aja malah orang tuanya yang overthingking. Baiklah, begini cara melatih anak toilet training di usia 2 tahun:
1. Gunakan Bahasa yang Dimengerti Anak
Gunakan bahasa yang mudah digunakan anak dan diucap oleh anak. Sehingga kita juga mudah untuk membonding anak.
2. Mengenalkan Toilet
Kenalkan toilet pada anak. Jelaskan fungsi toilet untuk buang air kecil dan besar. Beritahu anak kalau pipis itu tempatnya di toilet bukan di sembarang tempat.
Sehingga anak tahu, kalau saat ada keinginan buang air kecil, anak akan menunjuk toilet atau memintanya untuk pergi ke toilet.
3. Mengenalkan Cara Penggunaan Toilet
Orang tua bisa mengenalkan cara menggunakan toilet beserta cara buang air kecil atau besar. Anak laki-laki, Ayah bisa mengajarkannya bagaimana cara buang air besar. Begitu sebaliknya Bunda bisa mengenalkannya pada anak perempuan.
Jika di rumah WC jongkok, jelaskan bagaimana penggunaannya dan biasakan anak untuk buang air besar di sana. Jika closet jelaskan juga bagaimana penggunaannya. Jangan lupa siram WC setiap habis buang air besar.
5. Lakukan dengan Rutin
Perhatikan frekuensi buang air kecil anak. Jika 2-3 jam buang air kecil, ajak setiap 3 jam sekali untuk buang air kecil. Atau dalam sehari 4 kali mengajak anak untuk buang air kecil.
Salahku duluan setiap 1 jam sekali aku ajak anak ke toilet. Alhasil anak menolak dan lebih memilih mengompol daripada ke toilet. Anak lagi asik main, tiba-tiba ajak anak ke toilet. Jelas saja anaknya jadi tidak mau, hehe.
Jangan terlalu sering dan jangan juga terlalu lama mengajaknya ke toilet. Sesuaikan saja dengan frekuensi ia buang air kecil.
6. Ajak BAK Sebelum Tidur
Rutinitas sebelum tidur ini penting banget untuk kita biasakan buang air kecil sebelum tidur agar ia tidak mengompol. Kalau anak tidak mau,.tidak usah dipaksa ya.
Nanti anak merasa tidak nyaman ketika sedang tidur ia mengompol. Lama-lama anak meminta sendiri ingin buang air kecil.
Jadinya kalau tiba-tiba Aqlan kebangun tengah malam ingin buang air kecil, dia suka membangunkanku untuk minta diantar ke toilet.
Aku jadi de Javu, karena waktu kecil melakukan hal yang sama, membangunkan Mama kalau mau buang air kecil, hehe.
6. Beri Pujian
Beri anak pujian jika berhasil bilang ingin buang air kecil. Menurutku pujian itu berarti banget buat anak, anak jadi semangat melakukan sesuatu.
Kesimpulan
Anak perlu dilatih untuk melakukan toilet training agar terbiasa buang air kecil pada tempatnya. Prosesnya butuh waktu dan tidak mudah. Seringkali malah bikin frustasi.
Namun, jika kita tidak berekspektasi berlebihan dan serahkan saja semua sama anak tergantung keinginannya, Insya Allah kok anak juga akan mengerti. Kita sebagai orang tua mendukung dan terus sabar melatihnya.
Bersusah payah dulu sebelum nanti akhirnya tersenyum sambil bilang, "bye bye popok! hahaha." Rasanya ada kebahagiaan dan kelegaan tersendiri.
Ingat ya Bunda, jangan paksakan anak untuk toilet training agar anak tidak trauma. Agar anak enjoy dengan prosesnya, selanjutnya baca juga tentang Tanda-tanda anak Siap Toilet Training.
Referensi:
- Buku Saku Toilet Training dan Potty Chair karya Dra. Ni Ketut Mendri, S.Kep. Ns, M.Sc dan Dr. Atik Badi'ah, S.pd, S.Kp, M.Kes
- Channel YouTube Bidan Kriwil: Tips Toilet Training dengan Cepat
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...