Trading dan Investasi
ad1
Zona Dewasa
Anak Laki-laki Tidak Nurut? Begini Cara Mendidiknya!
Siska Lihe
Agustus 01, 2024
Apalagi yang memiliki anak laki-laki, seringkali merasa kesulitan jika dia sudah mulai tidak nurut atau membangkang. Aku sendiri sering melihat di sekitarku, perselisihan antara orang tua dan anak laki-laki.
Kok ribut melulu ya? Kok anaknya di marahin terus ya? Pasti ada sesuatu yang keliru dalam pola asuhnya. Aku percaya mendidik anak itu harus mau repot dan cape diawal saat usia bayi, agar saat remaja nanti tidak terlalu sulit karena sudah punya bekal dalam mendidiknya.
Apa iya mendidik anak laki-laki itu sulit? Apa sih yang menyebabkan anak laki-laki menjadi tidak nurut dengan orang tua? Simak sampai akhir ya.
Penyebab Anak Laki-laki Tidak Nurut dengan Orang Tua
Ada banyak pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak. Ada yang mendidik anak secara otoriter, pokoknya harus sesuai dengan kemauan orang tua, memanjakan, permisif dan lain sebagainya.Kita harus pahami dulu fitrah anak laki-laki itu apa, maka kita bisa melakukan pola asuh yang tidak membuat anak menjauh dari kita. Seringkali anak tidak nurut juga datang dari pola asuh kita yang keliru.
Kita menyuruh anak bersikap baik kepada orang lain, namun cara menyampaikan kita ke anak juga tidak baik dengan membentaknya. Ya, gimana anak juga mau nurut orang tuanya saja memberikan contoh yang tidak baik?
1. Menasihati Anak Laki-laki dalam Keadaan Lapar, Marah dan Cape
Lahir lebih dulu dari anak membuat kita merasa berpengalaman, rasanya ingin memberi tahu nasehat terus, haha. Padaha lsiapa tahu anak juga sedang tidak ingi dinasehati. Kita harus pahami dulu keinginan anak.Mendidik anak laki-laki berbeda dengan perempuan, jangan pernah menasehati anak laki-laki saat sedang dalam kondisi lapar atau cape, apalagi nasihatnya panjang sekali kita berbicara secara terus menerus. Kondisi seperti itu jelas tidak akan didengar oleh anak, yang ada anak malah semakin tidak nurut dengan orang tua karena merasa tidak dipahami.
2. Baterai Kasih Sayang Anak Tidak Terpenuhi
Bagi yang sering mendengar ceramahnya dr. Aisyah Dahlan, pasti sudah tidak asing dengan baterai kasih sayang yang merupakan bahasa cinta yang dibutuhkan anak.Anak yang bahasa cintanya dengan afirmasi kata-kata positif, membutuhkan pujian atau penyemangat. Sentuhan fisik dengan pelukan, hadiah dengan memberikan hadiah tidak perlu membeli hadiah baru dan mahal, cukup dengan "Bunda buatkan puding hadiah untuk adik."
Coba cek apakah kita sudah mengisi baterai kasih sayang tersebut sehingga anak jadi tidak penurut dan tidak mau mendengarkan nasihat kita? Jika belum, yuk jangan lupa untuk mengisinya setiap hari.
Marah boleh, tapi tidak harus dengan berteriak. Tegas dan berteriak beda ya. Jika anak mendengar orang tua berteriak rasanya anak merasa tidak dihargai.
Biasanya aku tarik nafas dulu, nunggu sampai pikiran jernih baru bicara sama anak. Kalau otak dalam keadaan marah, ilmu mengasuh yang kita miliki bisa hilang tertutup emosi, yang keluar hanya kata-kata kasar dan menyakiti anak.
3. Orang Tua Selalu Berteriak
Tentu kita ingin hubungan orang tua dan anak harmonis ya? Bagaimana ingin harmonis jika berbicara dengan anak selalu dengan cara berteriak. Turunkan intonasi nada bicara kita pada anak sekalipun kita sedang marah.Marah boleh, tapi tidak harus dengan berteriak. Tegas dan berteriak beda ya. Jika anak mendengar orang tua berteriak rasanya anak merasa tidak dihargai.
Biasanya aku tarik nafas dulu, nunggu sampai pikiran jernih baru bicara sama anak. Kalau otak dalam keadaan marah, ilmu mengasuh yang kita miliki bisa hilang tertutup emosi, yang keluar hanya kata-kata kasar dan menyakiti anak.
4. Terlalu Menuntut Anak Harus Sesuai dengan Keinginan Orang Tua
Sebagai orang tua ingin anak bisa lebih baik dari orang tua. Tapi, bukan berarti harus memaksakan keinginan kita.Selama itu yang terbaik bagi anak dan anak menyukainya sebagai orang tua harus kita dukung dan beri kepercayaan pada anak. Saat aku SMP aku diberi kebebasan memilih sekolah yang aku mau. Dengan dipercaya diberi pilihan, aku semakin merasa harus bertanggungjawab sehingga tidak malas-malasan dalam belajar.
Anak bukan pewujud cita-cita orang tua yang tidak tersampaikan. Cita-cita orang tua jadi dokter misalkan tidak terwujud dan memaksakan anak harus jadi dokter. Cara seperti ini hanya akan membuat anak membenci orang tuanya karena merasa hidupnya diatur.
5. Banyak Mengatur Anak
Sebagai orang tua tentu kita punya aturan untuk membuat anak disiplin dan bertanggungjawab. Namun, bukan berarti banyak mengatur dan melarang anak sehingga anak tidak bebas mencoba hal yang ia inginkan.
Sebagai orang tua sebaiknya hanya mengarahkan bahwa anak ada di jalan yang positif, bukan melarang banyak hal yang akhirnya membuat anak laki-laki tidak menuruti perkataan orang tuanya.
Libatkan anak dalam diskusi, dengarkan keinginan anak. Bukan hanya melarang sesuai sudut pandang kita saja. Lalu, bagiamana caranya agar anak laki-laki menjadi penurut?
Cara Mendidik Anak Laki-laki agar Mnejadi Penurut
Kami sebagai orang tua selalu menanamkan prinsip, jika ingin anak dengan output yang baik, maka kami pun harus bersikap baik. Berkaca pada diri sendiri yang tidak ingin diperlakukan tidak baik oleh orang lain, maka kita yang harus bersikap baik juga pada orang lain."Adik, nggak boleh gitu ya sama orang lain!" Tapi, kita memberitahunya dengan marah dan membentak? Hmmm apakah anak laki-laki akan menurut? Tentu tidak ya, yang ada anak semakin menjauh.
1. Terapkan Aturan yang Konsisten
Jika Ayah dan Bunda memiliki aturan di rumah, maka buatlah secara konsisten. Jika anak dilarang makan coklat, maka saat keluar rumah pun berlaku hal yang sama. Kadang kita merasa nggak enak sama teman-temannya makan coklat, anak sendiri tidak makan coklat.Kalau kita tidak jelas dan konsisten menerapkan aturan, anak jadi punya celah untuk membantah. “Waktu itu aja dikasih coklat, kenapa sekarang aku tidak boleh makan coklat?” Anak jadi kebingungan dengan aturan yang kita buat.
Ini memang tidak mudah ya, apalagi Aqlan itu wajahnya terlihat sedih kalau teman-temannya makan yang dia tidak boleh makan dulu. Kadang kasian, tapi lebih kasian mana melihat anak yang sakit karena makan sembarangan?
2. Ayah dan Bunda Memiliki Pola Asuh yang Sama
Sepakati pola asuh bersama pasangan akan mengasuh dengan pola yang bagaimana. Kalau anak tidak boleh makan permen, maka berlaku juga bagi Ayah dalam memberlakukan aturan.Kalau salah satu berbeda, akan memicu anak untuk berbohong dan mengambil kesempatan. Bila harus bekerja, sampaikan juga pola asuh kita terhadap pengasuh. Seharusnya lingkungan juga turut mendukung pola asuh kita.
3. Gunakan Bahasa yang Lembut
Gunakan bahasa yang lembut, sehingga memudahkan anak memahami bahasa kita. Panggil nama anak saat kita memanggilnya, anak akan lebih memperhatikan dan mendengarkan nasihat kita.Bahasa yang lembut juga cara mendidik yang sesuai ajaran Islam. Anak akan mencontoh perkataan kita yang baik. Ini akan membantu anak mengontrol pergaulannya yang mungkin sering menggunakan kata kasar.
4. Tidak memaksa Anak
Jangan pernah paksa anak, tapi juga jangan dibiarkan, hehe paham kan ya Bunda. Anak juga manusia yang punya perasaan, selama sesuai dengan aturan yang diterapkan dan tidak dalam konteks yang membahayakan, kita tidak bisa memaksa anak untuk menjadi yang kita mau.
Apalagi anak remaja laki-laki, yang sudah banyak berinteraksi dengan lingkungan, sudah punya keinginan sendiri. Hendaknya kita dengarkan saja keinginannya tanpa harus menghakimi. Ajak diskusi anak dan cari solusi bersama.
Berlaku juga bagi anak yang toodler, tidak memaksa anak dan tidak banyak melarang, kita awasi saja.
5. Ciptakan Suasana yang Menyenangkan
Bukan hanya sebagai orang tua, kita juga sebagai pasangan dari suami atau istri. Selisih paham seringkali terjadi dan bisa menimbulkan suasana yang mencekam kalau istri sudah marah. Betul atau tidak Bunda? Hehe.Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam rumah. Ciptakan rumah yang hangat, sehingga jadi tempat yang nyaman bagi anak laki-laki untuk pulang ke rumah.
Senang yaa jika anak sedang bermain yang diingatkannya Ayah dan Bunda dan ingin pulang ke rumah? Selalu merindukan orang tuanya di rumah. Ini masih menjadi PR juga bagiku, Bismillah semoga kita adalah orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita. Aamiin yaa Rabbal 'alamiin.
Kesimpulan
Ekspektasi kita sebagai orang tua inginnya anak anteng, nurut dan selalu sesuai dengan aturan. Nyatanya yang terjadi anak sering kali melawan dan memberontak sesuai keinginannya sendiri.Kalau sudah begitu, kita cari tahu dulu apa saja penyebab anak laki-laki marah, lalu interopekai pola pengasuhan kita mungkin ada yang keliru.
Tidak ada yang sempurna, anak juga punya perasaan yang bisa menolak. Namun, bagaimana supaya anak laki-laki bisa menjadi penurut dan tidak membangkang dengan nasihat yang memang sesuai ajaran Islam bukan berdasarkan ego orang tua.
Selanjutnya baca juga Cara Mendidik Anak Laki-laki yang Susah Diatur. Ayah dan Bunda punya cara sendiri? Yuk sharing di kolom komentar!
Referensi:
- Cara Agar Anak Nurut Pada Orang Tua Mendidik anak supaya nurut dan patuh - https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/cara-agar-anak-nurut-pada-orang-tua
- 9 Cara Menasehati Supaya Anak Nurut Sama Orang Tua - https://www.prenagen.com/id/cara-supaya-anak-nurut



Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...